Koeno.Id – Lembaran mata uang kuno sering kali menyimpan narasi yang jauh lebih mendalam daripada fungsi nominalnya sebagai alat tukar. Salah satu bukti sejarah paling dramatis dalam perjalanan finansial Indonesia adalah Uang Kertas Rp 40 Emisi 1948 Seri Oeang Repoeblik Indonesia (ORI) IV. Di balik angka nominalnya yang tidak lazim bagi generasi modern, pecahan ini lahir sebagai instrumen kedaulatan di tengah kecamuk perang pertahanan kemerdekaan.
Lahir di Ibu Kota Perjuangan “Jogjakarta”
Tahun 1948 merupakan periode yang krusial bagi eksistensi Republik Indonesia. Akibat tekanan politik dan militer pasca-Perjanjian Renville, Jakarta tidak lagi aman sehingga pusat pemerintahan terpaksa dipindahkan ke Yogyakarta. Di kota yang bertindak sebagai ibu kota darurat inilah, ORI Seri IV dirancang dan diproduksi. Teks ejaan lama “Jogjakarta” yang tertera dengan jelas di atas lembaran kertas ini menjadi penanda geografis sekaligus penegas bahwa kekuasaan Republik masih tegak berdiri.
Penerbitan uang darurat berpecahan Rp 40 ini dipicu oleh kas negara yang menipis akibat blokade ekonomi ketat yang dilancarkan oleh tentara kolonial Belanda (NICA). Untuk mempertahankan jalannya roda pemerintahan serta membiayai logistik tentara pejuang, pemerintah mengambil langkah nekat dengan mencetak emisi baru ini di bawah kondisi fasilitas percetakan yang sangat terbatas.
Spesifikasi Teknis Rp 40 Seri ORI IV (Katalog Pick P#33):
- Tahun Emisi: 1948 (Beredar terbatas menjelang Agresi Militer Belanda II)
- Penandatangan: Drs. Mohammad Hatta (selaku Wakil Presiden sekaligus Menteri Keuangan)
- Nomor Seri: Menggunakan sistem 4 huruf besar tanpa kombinasi angka standar
- Dimensi Ukuran: ± 138 x 40 mm dengan bahan kertas lokal sederhana
Tanda Tangan Bung Hatta dan Bayang-Bayang Agresi Militer
Daya tarik historis yang paling memikat dari uang darurat ini adalah tanda tangan yang tertera di atasnya. Lembaran Rp 40 ini disahkan secara resmi oleh Wakil Presiden sekaligus Menteri Keuangan RI, Drs. Mohammad Hatta. Penerbitan ORI IV ini menjadi salah satu keputusan moneter terakhir yang diambil sebelum meletusnya Agresi Militer Belanda II pada Desember 1948, yang berujung pada penawanan para pemimpin bangsa di Yogyakarta.
Secara visual, desain uang kuno Rp 40 ini kental akan nuansa propaganda kemerdekaan yang merakyat. Pada sisi depan (obverse), terpampang potret Presiden Soekarno berdampingan dengan gambar seorang wanita penenun tradisional. Motif penenun ini merupakan simbol filosofis yang kuat mengenai ketahanan pangan, kemandirian sandang, serta perlawanan ekonomi rakyat kecil terhadap hegemoni mata uang gulden Belanda.
Nilai Numismatik yang Kian Meroket
Karena dicetak menggunakan bahan kertas sederhana di masa perang sipil, uang ini sangat rentan rusak oleh kelembapan udara. Sebagian besar pasokan ORI IV hancur atau disita selama pendudukan Belanda, menjadikannya benda pusaka finansial yang sangat langka di abad ke-21 ini.
Di pasar lelang numismatik saat ini, selembar uang Rp 40 Emisi 1948 orisinal yang memiliki sertifikasi internasional seperti Paper Money Guaranty (PMG) dengan kondisi prima (grade 64) nilainya dapat menembus angka Rp 3.400.000 hingga Rp 4.450.000. Bahkan untuk kondisi sirkulasi terpakai seperti Very Fine (VF), uang ini tetap diburu dengan harga jutaan rupiah karena nilai kelangkaan sejarahnya yang tidak bisa direplikasi oleh teknologi modern mana pun.












